Thursday, 15 March 2012

Produk Life Cycle

Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk. Seperti halnya dengan manusia, suatu produk juga memiliki siklus atau daur hidup. Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini yaitu suatu grafik yang menggambarkan riwayat produk sejak diperkenalkan ke pasar sampai dengan ditarik dari pasar . Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) ini merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena memberikan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk. Konsep ini dipopulerkan oleh levitt (1978) yang kemudian penggunaannya dikembangkan dan diperluas oleh para ahli lainnya.

Ada berbagai pendapatan mengenai tahap – tahap yang ada dalam Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) suatu produk. Ada yang menggolongkannya menjadi introduction, growth, maturity, decline dan termination. Sementara itu ada pula yang menyatakan bahwa keseluruhan tahap – tahap Siklus Hidup Produk (Product Life Cycle) terdiri dari introduction (pioneering), rapid growth (market acceptance), slow growth (turbulance), maturity (saturation), dan decline (obsolescence). Meskipun demikian pada umumnya yang digunakan adalah penggolongan ke dalam empat tahap, yaitu introduction, growth, maturity dan decline.


1. Tahap Perkenalan (Introduction)
a. Strategi peluncuran cepat (rapid skimming strategy)
Peluncuran produk baru pada harga tinggi dengan tingkat promosi yang tinggi. Perusahaan berusaha menetapkan harga tinggi untuk memperoleh keuntungan yang mana akan digunakan untuk menutup biaya pengeluaran dari pemasaran.
b. Strategi peluncuran lambat (slow skimming strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan harga tinggi dan sedikit promosi. Harga tinggi untuk memperoleh keuntungan sedangkan sedikit promosi untuk menekan biaya pemasaran.
c. Strategi penetrasi cepat (rapid penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk pada harga yang rendah dengan biaya promosi yang besar. Strategi ini menjanjikan penetrasi pasar yang paling cepat dan pangsa pasar yang paling besar.
d. Strategi penetrasi lambat (slow penetration strategy)
Merupakan peluncuran produk baru dengan tingkat promosi rendah dan harga rendah. Harga rendah ini dapat mendorong penerimaan produk yang cepat dan biaya promosi yang rendah.

2. Tahap Pertumbuhan (Growth)
Selama tahap pertumbuhan perusahaan menggunakan beberapa strategi untuk mempertahankan pertumbuhan pasar yang pesat selama mungkin dengan cara:
a. Meningkatkan kualitas produk serta menambahkan keistimewaan produk baru dan gaya yang lebih baik.
b. Perusahaan menambahkan model – model baru dan produk – produk penyerta (yaitu, produk dengan berbagai ukuran, rasa, dan sebagainya yang melindungi produk utama)
c. Perusahaan memasuki segmen pasar baru.
d. Perusahaan meningkatkan cakupan distribusinya dan memasuki saluran distribusi yang baru.
e. Perusahaan beralih dari iklan yang membuat orang menyadari produk (product awareness advertising) ke iklan yang membuat orang memilih produk (product preference advertising)
f. Perusahaan menurunkan harga untuk menarik pembeli yang sensitif terhadap harga dilapisan berikutnya.

3. Tahap Kedewasaan (Maturity)
a. Perusahaan meninggalkan produk mereka yang kurang kuat dan lebih berkonsentrasi sumber daya pada produk yang lebih menguntungkan dan pada produk baru.
b. Memodifikasi pasar dimana perusahaan berusaha untuk memperluas pasar untuk merek yang mapan.
c. Perusahaan mencoba menarik konsumen yang merupakan pemakai produknya.
d. Menggunakan strategi peningkatan keistimewaan (feature improvement) yaitu bertujuan menambah keistimewaan baru yang memperluas keanekagunaan, keamanan atau kenyaman produk.
e. Strategi defensif dimana perusahaan untuk mempertahankan pasar yang mana hasil dari strategi ini akan memodifikasi bauran pemasaran.
f. Strategi peningkatkan mutu yang bertujuan meningkatkan kemampuan produk, misalnya daya tahan, kecepetan, dan kinerja produk.
g. Strategi perbaikan model yang bertujuan untuk menambah daya tarik estetika produk seperti model, warna, kemasan dan lain – lain.
h. Menggunakan take-off strategy yang mana marupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mencapai fase penerimaan konsumen baru, strategi ini dapat memperbaharui pertumbuhan pada saat produk masuk dalam kematangan.

4. Tahap Penurunan (Decline)
a. Manambah investasi agar dapat mendominasi atau menempati posisi persaingan yang baik.
b. Mengubah produk atau mencari penggunaan/manfaat baru pada produk
c. Mencari pasar baru
d. Tetap pada tingkat investasi perusahaan saat ini sampai ketidakpastian dalam industri dapat diatasi
e. Mengurangi investasi perusahaan secara selesktif dengan cara meninggalkan konsumen yang kurang menguntungkan.
f. Harvesting strategy untuk mewujudkan pengembalian uang tunai secara cepat
g. Meninggalkan bisnis tersebut dan menjual aset perusahaan.
Berikut ini beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan yang berada pada fase decline:
• Meningkatkan investasi perusahaan untuk mendominasi pasar atau memperkuat posisi persaingan
• Mempertahankan level investasi perusahaan sampai pada titik dimana ketidakpastian terhadap industri menjadi jelas
• Mengurangi tingkat investasi perusahaan secara selektif dengan cara meninggalkan kelompok customer yang tidak memberikan keuntungan, serta meningkatkan investasi pada pasar yang memberikan keuntungan
• Mengambil investasi perusahaan untuk memperoleh dana cair (cash) dalam waktu yang singkat
• Meninggalkan bisnis dalam waktu yang singkat dengan cara menjual aset perusahaan secepatnya
Dalam memilih strategi yang tepat untuk dilakukan, perusahaan harus melihat kondisi industri yang ada serta kekuatan perusahaan untuk bersaing dalam industri tersebut. Jika kondisi industri sudah tidak menarik tetapi kekuatan perusahaan masih ada, maka sebaiknya perusahaan mempertimbangkan untuk meninggalkan industri tersebut. Sedangkan jika kondisi industri masih menarik dan perusahaan masih mempunyai kekuatan untuk bersaing, maka perusahaan dapat mempertimbangkan untuk meningkatkan investasinya.

Jika dilihat dari berbagai definisi tahapan dalam siklus tersebut, dapat dikatakan bahwa produk elektronik biasanya mempunyai siklus hidup yang cepat mengalami tahap decline, hal ini disebabkan karena kemajuan teknologi yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Contoh, flashdisk dengan kapasitas 128 mbyte, pasti saat ini sudah mengalami tahap decline. Sekarang orang jika ingin berniat membeli flashdisk mungkin akan mematok untuk membeli flashdisk minimal dengan kapasitas 2 Gigabyte. Bahkan toko-toko elektronik dan komputer sudah tidak mnyediakan lagi flashdisk dengan kapasitas 128 Megabyte. Sedangkan produk yang mempunyai daur hidup agak lama untuk mencapai tahap decline adalah makanan dan minuman . Contoh nasi, saya berani menjamin bahwa 10 tahun mendatang pasti bangsa Indonesia masih setia untuk makan nasi. Contoh lainnya aqua, sejak berdirinya aqua sampai sekarang (puluhan tahun) tetap memimpin pasar dan masih ada di tahap growth. Mungkin jika suatu saat air jernih menjadi langka di Indonesia,, pasti produk aqua semakin laku di pasaran.

Beberapa teknik atau cara untuk memperpanjang daur hidup produk :
1. Meningkatkan Konsumsi dengan cara membujuk konsumen untuk meningkatkan penggunaan produknya dengan berbagai manfaat yang ditawarkan. Contoh : untuk hasil maksimal gunakan pasta gigi sepanjang bulu sikat, apa pun makannya minumnya teh botol sosro, memakai sampo setiap hari membuat rambut sehat, dsb.
2. Mencari fungsi lain produk dari biasanya. Contoh seperti teh tidak hanya untuk ngeteh saja tapi dapat dibuat kreasi menjadi minuman yang lebih kompleks.
3. Memodifikasi produk agar tampil baru dan segar baik dari segi isi, kemasan, takaran, ukuran, manfaat, dan lain sebagainya. Contoh misal seperti produk unilever yang biasanya terus menerus mengganti isi pepsodent beserta kemasannya agar selalu tampil baru dan segar.
4. Mencari target konsumen baru
Jika pasar yang sudah ada sudah tidak dapat diandalkan untuk meningkatkan penjualan maka dapat ditempuh jalan dengan cara membidik segmen pasar baru untuk dibujuk untuk menjadi pelanggan. Contoh : rokok sampoerna hijau yang tadinya membidik golongan menengah ke bawah kini mulai membidik golongan menengah ke atas untuk memperluas segmen pasar.






 


History Economy

Ancient times

As long as someone has been making, supplying and distributing goods or services, there has been some sort of economy; economies grew larger as societies grew and became more complex. Sumer developed a large scale economy based on commodity money, while the Babylonians and their neighboring city states later developed the earliest system of economics as we think of, in terms of rules/laws on debt, legal contracts and law codes relating to business practices, and private property.
The Babylonians and their city state neighbors developed forms of economics comparable to currently used civil society (law) concepts.They developed the first known codified legal and administrative systems, complete with courts, jails, and government records.
Several centuries after the invention of cuneiform, the use of writing expanded beyond debt/payment certificates and inventory lists to be applied for the first time, about 2600 BC, to messages and mail delivery, history, legend, mathematics, astronomical records and other pursuits. Ways to divide private property, when it is contended... amounts of interest on debt... rules as to property and monetary compensation concerning property damage or physical damage to a person... fines for 'wrong doing'... and compensation in money for various infractions of formalized law were standardized for the first time in history.
Greek drachm of Aegina. Obverse: Land turtle / Reverse: ΑΙΓ(INA) and dolphin. The oldest turtle coin dates 700 BC
The ancient economy was mainly based on subsistence farming. The Shekel referred to an ancient unit of weight and currency. The first usage of the term came from Mesopotamia circa 3000 BC. and referred to a specific mass of barley which related other values in a metric such as silver, bronze, copper etc. A barley/shekel was originally both a unit of currency and a unit of weight... just as the British Pound was originally a unit denominating a one pound mass of silver.
For most people the exchange of goods occurred through social relationships. There were also traders who bartered in the marketplaces. In Ancient Greece, where the present English word 'economy' originated, many people were bond slaves of the freeholders. Economic discussion was driven by scarcity.

Middle ages

In Medieval times, what we now call economy was not far from the subsistence level. Most exchange occurred within social groups. On top of this, the great conquerors raised venture capital (from ventura, ital.; risk) to finance their captures. The capital should be refunded by the goods they would bring up in the New World. Merchants such as Jakob Fugger (1459–1525) and Giovanni di Bicci de' Medici (1360–1428) founded the first banks. The discoveries of Marco Polo (1254–1324), Christopher Columbus (1451–1506) and Vasco da Gama (1469–1524) led to a first global economy. The first enterprises were trading establishments. In 1513 the first stock exchange was founded in Antwerpen. Economy at the time meant primarily trade.

Early modern times

The European captures became branches of the European states, the so-called colonies. The rising nation-states Spain, Portugal, France, Great Britain and the Netherlands tried to control the trade through custom duties and taxes in order to protect their national economy. The so-called mercantilism (from mercator, lat.: merchant) was a first approach to intermediate between private wealth and public interest. The secularization in Europe allowed states to use the immense property of the church for the development of towns. The influence of the nobles decreased. The first Secretaries of State for economy started their work. Bankers like Amschel Mayer Rothschild (1773–1855) started to finance national projects such as wars and infrastructure. Economy from then on meant national economy as a topic for the economic activities of the citizens of a state.

The industrial revolution

The first economist in the true meaning of the word was the Scotsman Adam Smith (1723–1790). He defined the elements of a national economy: products are offered at a natural price generated by the use of competition - supply and demand - and the division of labour. He maintained that the basic motive for free trade is human self interest. The so-called self interest hypothesis became the anthropological basis for economics. Thomas Malthus (1766–1834) transferred the idea of supply and demand to the problem of overpopulation. The United States of America became the place where millions of expatriates from all European countries were searching for free economic evolvement.
The Industrial Revolution was a period from the 18th to the 19th century where major changes in agriculture, manufacturing, mining, and transport had a profound effect on the socioeconomic and cultural conditions starting in the United Kingdom, then subsequently spreading throughout Europe, North America, and eventually the world. The onset of the Industrial Revolution marked a major turning point in human history; almost every aspect of daily life was eventually influenced in some way. In Europe wild capitalism started to replace the system of mercantilism (today: protectionism) and led to economic growth. The period today is called industrial revolution because the system of Production, production and division of labour enabled the mass production of goods.

After World War II

After the chaos of two World Wars and the devastating Great Depression, policymakers searched for new ways of controlling the course of the economy. This was explored and discussed by Friedrich August von Hayek (1899–1992) and Milton Friedman (1912–2006) who pleaded for a global free trade and are supposed to be the fathers of the so called neoliberalism. However, the prevailing view was that held by John Maynard Keynes (1883–1946), who argued for a stronger control of the markets by the state. The theory that the state can alleviate economic problems and instigate economic growth through state manipulation of aggregate demand is called Keynesianism in his honor. In the late 1950s the economic growth in America and Europe—often called Wirtschaftswunder (ger: economic miracle) —brought up a new form of economy: mass consumption economy. In 1958 John Kenneth Galbraith (1908–2006) was the first to speak of an affluent society. In most of the countries the economic system is called a social market economy.

** http://en.wikipedia.org/wiki/Economy

Monday, 12 March 2012

Kemiskinan di Indonesia Akan Hilang Tahun 2020

Dari data laporan Badan Pusat Statistik (BPS)  periode Maret 2011 jumlah penduduk miskin di Indonesia saat ini berjumlah 30,02 juta jiwa. Sementara itu masih ada 27,12 juta jiwa lagi yang nyaris miskin. (Detikfinance) Jadi ada sejumlah 57,14 juta jiwa penduduk Indonesia, atau hampir seperempat dari 241 juta jiwa penduduk Indonesia, hidup ‘megap-megap’ secara ekonomi di negeri yang amat makmur sumber daya alamnya ini. Tentu angka tersebut bukanlah angka yang kecil.
Dan asal tahu saja, penduduk miskin tersebut tidak kelaparan sampai saat ini bukan karena keberhasilan proggram-progran pengentasan kemiskinan dari pemerintah, melainkan dari hasil cucuran keriungat (dan darah) para TKI (buruh migran) yang rutin mengirimkan pendapatannya kepada keluarga di kampung.
Cukuplah sudah berharap pada perhatian, apalagi program pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan ini. Kita sebagai warga masyarakat biasa, golongan menengah, terdidik, terpelajar, profesional dan pengusaha perlu berjalan sendiri jika masih peduli terhadap kelangsungan negeri yang baru 65 tahun merdeka ini.
Menurut Riset Standard Chartered Bank, jumlah orang mapan di Indonesia atau yang berpenghasilan Rp240-500 juta per tahun mencapai 4 juta orang. Jumlah ini menempati urutan ketiga negara di Asia (kecuali Jepang) setelah China dan India. Lihat di bawah ini:
Jumlah orang kaya di Asia secara berurutan:
1. China           : 23,3 juta jiwa
2. India            : 5,2 juta jiwa
3. Indonesia   : 4,0 juta jiwa
4. Korea           : 3,2 juta jiwa
5. Taiwan         : 1,8 juta jiwa
6. Malaysia     : 1,6 juta jiwa
7. Hong Kong : 1,2 juta jiwa
8. Singapore   : 700 ribu jiwa
Vivanews.com menuliskan,
Tak hanya riset Standard Chartered Bank, riset Credit Suisse Research Institute dalam laporan “Credit Suisse Global Wealth Report 2010′ dan riset Merril Lynch Wealth Management, Bank of America dan Capgemini dalam laporan “Asia Pacific Wealth Report 2010″ mecatat rata-rata kekayaan orang Indonesia meningkat lima kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. “Ini adalah pertumbuhan spektakuler di dunia,” kata Walter Berchtold, CEO Private Banking Credit Suisse dalam laporannya.
Lihat betapa hebatnya negeri ini yang memiliki ‘kue’ sumber daya alam (SDA) yang besar namun hanya dinikmati ’secuil’ orang saja dari 241 juta penduduk Indonesia. Padahal volume perut manusia tidak akan mampu menampung seluruh isi bumi nusantara ini.
Jika saja setiap tahunnya orang kaya itu mengangkat 1 orang miskin, bisa dipastikan dalam kurun waktu 7-8 tahun lagi, Indonesia akan terbebas dari kemiskinan. Jika saja…..



http://sosbud.kompasiana.com/2011/07/11/kemiskinan-di-indonesia-akan-hilang-tahun-2020/

angka kemiskinan di Indonesia masih tinggi

JAKARTA, (PRLM).- Angka kemiskinan di Indonesia sepanjang tahun 2011 dinilai beberapa kalangan masih tinggi walaupun pemerintah mengklaim sudah berhasil menekan angka kemiskinan. Menurut aktivis Dian Irawati masih diperlukan program tepat sasaran untuk mengatasi kemiskinan di tanah air.
Dian Tri Irawati dari LSM Rujak Center for Urban Studies mengatakan, pemeritah memang sudah berupaya merealisasikan kebijakan yang berpihak pada masyarakat kurang mampu seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat atau PNPM Mandiri.
Ia mengingatkan jika pemerintah benar-benar berniat ingin terus menekan angka kemiskinan maka pemerintah jangan sampai mengeluarkan kebijakan yang menyulitkan masyarakat kurang mampu dalam menjalankan kehidupan seperti izin berdagang dan izin tempat tinggal.
“Sebetulnya tanpa injeksi modal dari pemerintah pun mereka akan survive secara ekonomi, konsumsi juga ya ditingkatan lokal sehingga perputaran uang tetap terjaga, tapi itu tidak serta merta dimunculkan oleh program pemerintah, kalau saya tetap melihat apa yang sudah dilakukan memang baik tapi mungkin bagaimana menjaga agar kebijakan yang sudah baik, untuk mencoba memberdayakan rakyat miskin bisa mandiri dan akhirnya bisa lepas dari level kemiskinan,” ujar Dian.
Dian Tri Irawati berpendapat, jika pemerintah serius menjalankan program yang sudah dicanangkan yaitu pro job, pro poor dan pro environment, pemerintah juga harus serius menjalankan upaya pemberantasan korupsi.
“Kita tidak akan pernah selesai dalam urusan pengentasan kemiskinan, mau maju dalam pembangunan kalau isu korupsi belum selesai, minimal diminimalisir semuanya drastis menurun di 2012 baru saya bisa percaya bahwa tiga skema ini bisa berjalan, korupsi itu kan di segala lini, di semua program mungkin, itu masih akar masalah dan ‘PR’ (pekerjaan rumah) besar,” kata Dian.
Sementara, menurut staf khusus bidang ekonomi Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Lucky Korah, kementeriannya juga sangat aktif berupaya menekan kemiskinan di berbagai daerah. Ditambahkannya tahun depan kementeriannya akan fokus dalam program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau MP3EI.
Ia menjelaskan, “Perlu pergerakan ekonomi yang mendorong ekonomi merakyat, dari 22 kegiatan MP3EI sebagian besar ada di kawasan timur Indonesia termasuk di Papua dan Maluku, pertambangan, energi, perikanan, pertanian, pangan termasuk dari bagian itu, kita harapkan dengan memacu daerah tertinggal, memanfaatkan kebijakan MP3EI maka pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan, pengurangan pengangguran di kasawan tertinggal bisa otomatis turun.”
Menurut catatan pemerintah, dari jumlah orang miskin sebelumnya yaitu sekitar 17,7 juta orang pemerintah menargetkan turun menjadi 16 juta orang hingga akhir tahun 2011. Pemerintah telah menargetkan untuk dapat menurunkan angka kemiskinan tahun depan menjadi sekitar 14,4 juta orang miskin di Indonesia.

** http://www.pikiran-rakyat.com/node/171290